DIKLAT UKM BADAN DAKWAH KAMPUS UNIVERSITAS PANCA MARGA PROBOLINGGO PERIODE 2021/2022


    
     


   Dalam rangka pelatihan dan pendidikan UKM BDK periode 2021/2022, yang bertema "Mewujudkan jiwa kepemimpinan yang loyal dan cinta terhadap organisasi serta menjunjung tinggi Akhlakul Karimah".  Diklat UKM BDK ini diselenggarakan pada hari Sabtu - Minggu (22-23 Januari 2022), bertempat di Universitas panca marga Probolinggo.

Kegiatan Diklat UKM BDK kurang lebih dari 75% pengurus dan anggota yang mengikuti Diklat BDK, kegiatan ini juga di hadiri oleh Ketua Demisioner BDK 2019/2020 M. Fathurrosy, S. M., Pembina UKM Badan Dakwah Kampus  (BDK) yaitu Bapak Husni Mubaroq,S.Fil.,I.M.IP., serta Dosen Universitas Panca Marga Probolinggo selaku kemahasiswaan yaitu Bapak Misdiyanto,S.T.,M.Kom.

Kegiatan Diklat wajib di ikuti oleh semua pengurus dan anggota UKM Badan Dakwah Kampus  (BDK) periode 2021/2022. Dalam kegiatan Diklat UKM BDK ini menghadirkan 5 pemateri diantaranya Bapak Misdiyanto,S.T.,M.Kom. sebagai pemateri yang menyampaikan tentang Wawasan Kebangsaan, Erni Fidiyanti menyampaikan mengenai Orientasi BDK, Bapak Husni Mubaroq,S.Fil.,I.M.IP. selaku pembina UKM BDK menyampaikan tentang Keorganisasian dan Keislaman, M. Fathurrosy,S.M., yang memberikan materi mengenai Leadership, serta M. Yunus yang menyampaikan mengenai Problem Solving.

Pembina UKM Badan Dakwah Kampus (BDK), Bapak Husni Mubaroq mengapresiasi pengurus dan anggota yang telah menyempatkan diri untuk hadir dalam kegiatan Diklat UKM Badan Dakwah Kampus  (BDK). Selain itu beliau melalui pesannya '' jika kita tidak dilatih bagaimana menjadi pemimpin, bagaimana menjadi orang yang bertanggung jawab diibaratkan dengan kayu bakar sejarah, nasinya sudah matang kayunya tidak pernah dihitung” lantas siapa yang akan mengisi dunia ini dan siapa yang akan menciptakan suasana lebih baik, jika bukan kita nanti lima atau sepuluh tahun yang akan datang. kapan lagi kita akan keluar dari zona nyaman? ...Jadi, mahasiswa itu harus meningkatkan kompetensi menulis, membaca, berinteraksi dan sebagainya. Oleh karena itu, beliau mengingatkan bahwa tidak cukup ilmu pengetahuan yang kita miliki dan tidak cukup pula nama baik orang tua kita.

Kegiatan Diklat Pengurus dan Anggota UKM Badan Dakwah Kampus (BDK) ditutup dengan penyampai pesan dan kesan dari awal kegiatan hingga akhir kegiatan, yang mana Panitia Diklat memilih  perwakilan dari satu putra dan satu putri untuk nyampaikan pesan dan kesannya.

Berdasarkan tema pada Diklat UKM BDK ini perlu diketahui bahwa bukan hanya sekedar kata-kata yang ditempelkan pada banner. Namun, merupakan salah satu prioritas dalam mengadakan Diklat pada hari sabtu-minggu. Dengan berakhlak, loyal dan cinta terhadap organisasi yang artinya kita telah memberikan semangat atau kontribusi dalam suatu organisasi.

M. Yunus selaku ketua pelaksana memberikan pesan bahwa: “Saya sangat bersyukur dan berharap kepada pengurus dan anggota UKM Badan Dakwah Kampus untuk menumbuhkan rasa cinta terutama pada  organisasi. Suatu pepatah mengatakan apabila kalian sudah cinta terhadap sesuatu, maka kalian akan menjadi Khodimnya sama dengan hal ini jika kita sudah menumbuhkan rasa cinta terhadap UKM BDK, bahwasanya kita tidak bisa meninggalkan apa yang ada di dalam BDK. Jadi dengan tema yang seperti ini mari kita sama-sama belajar bukan tentang siapa yang lebih tinggi jabatannya, bukan siapa yang lebih rendah jabatannya. Namun, siapa yang lebih berkontribusi terhadap UKM BDK ini”.


KEUTAMAAN MUADZIN

 KEUTAMAAN BAGI MUADZIN


Dalam Syarah Muslim, Imam Nawawi (nama lengkap Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi) menjelaskan maksud frase أطول الناس أعناقا (paling panjang lehernya) dalam hadits di atas sebagai berikut:

 معناه أكثر الناس تشوفاً إلى رحمة الله تعالى؛ لأن المتشوف يطيل عنقه إلى ما يتطلع إليه، فمعناه كثيرة ما يرونه من الثواب

Artinya: Maknanya adalah orang yang paling banyak melongok (mengharap) kepada rahmat Allah ta’ala karena sesungguhnya orang yang melongok (mutasyawwif) akan memanjangkan lehernya terhadap apa yang ia ketahui. Maksudnya, seorang muadzin akan menjadi sosok yang menonjol di akhirat karena banyaknya pahala yang diterimanya dari Allah SWT. (lihat Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawi, Muassisah al-Qurthubah, 1994, Juz 4, Cetakan 2, hal. 121-122).

Dalam Hadist lain Rasulullah SAW pernah menyebutkan bahwa seluruh benda akan memintakan ampun atas dosa seorang muadzin, hal ini disebutkan Imam Ahmad dalam sebuah hadits :

الْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ بِمَدِّ صَوْتِهِ وَيَشْهَدُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ

Artinya, “Muadzin diampuni sejauh jangkauan azannya. Seluruh benda yang basah maupun yang kering yang mendengar azannya memohonkan ampunan untuknya,” (HR Ahmad).

Keutamaan lain sebagaimana Hadits yang diriwayatkan  Imam An-Nasa’I :

وَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ صَلَّى مَعَهُ

Artinya, “Muadzin mendapatkan pahala seperti pahala orang yang shalat bersamanya,” (HR An Nasa’i).

 

أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ ، قَالَ لَهُ : إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الغَنَمَ وَالبَادِيَةَ ، فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ ، أَوْ بَادِيَتِكَ ، فَأَذَّنْتَ بِالصَّلاَةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ ، فَإِنَّهُ : لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ المُؤَذِّنِ ، جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ ، إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ القِيَامَةِ ، قَالَ أَبُو سَعِيدٍ : سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

“Sesungguhnya aku melihat engkau menyukai kambing dan pengembaraan. Ketahuilah jika engkau sedang mengembala atau sedang mengembara melewati padang pasir, dan engkau mengumandangkan adzan untuk sholat, maka angkatlah suaramu tinggi-tinggi. Karena sesungguhnya sepanjang dan sejauh suara orang adzan, tidak akan terdengar jin, manusia, atau apa pun kecuali ia akan bersaksi untuk orang adzan pada hari kiamat kelak. Aku mendengar hal itu dari Rasulullah SAW.” (HR Al-Bukhari).

Yusni A Ghzali menjelaskan, pada hadits di atas dijelaskan bahwa semua makhluk yang beriman, baik itu dari golongan jin maupun manusia akan bersaksi untuk muadzin. Bahkan, makhluk-makhluk lain yang kita anggap benda mati akan bersaksi untuk muadzin.

At-Turbusyti dalam kitab yang sama juga menjelaskan bahwa maksud dari “Kesaksian” itu adalah jika muadzin dibantu oleh makhluk lain dengan kesaksiannya, maka ia akan diangkat menjadi manusia yang mulia dan berderajat tinggi di akhirat kelak.

Semakin tinggi dan nyaring suara muadzin, maka akan semakin banyak makhluk yang mendengarnya dan besaksi untuknya. Sebaliknya, jika adzan dikumandangkan dengna lirih, maka makhluk yang mendengarnya alah lebih sedikit, sehingga derajatnya pun lebih rendah dibandingkan muadzin laain dengan suaranya yang tinggi.  

Penulis : (Muhammad Arifulloh).

Editor :  Tim UKM BDK

Melalui Hikmah Isra Mi'raj, Mari Wujudkan Jiwa yang Taat dalam Meraih Iman dan Taqwa kepada Allah SWT

  Salah satu peristiwa yang sering diperingati oleh umat islam tepatnya pada tanggal 27 rajab yakni isra miraj. Peristiwa ini sendiri merupa...