Melalui Hikmah Isra Mi'raj, Mari Wujudkan Jiwa yang Taat dalam Meraih Iman dan Taqwa kepada Allah SWT

 

Salah satu peristiwa yang sering diperingati oleh umat islam tepatnya pada tanggal 27 rajab yakni isra miraj. Peristiwa ini sendiri merupakan bentuk kuasa Allah SWT yang tidak dapat diterima secara akal manusia dan hanya dapat diterima secara keimanan dimana allah menjalankan seorang hamba yakni nabi Muhammad SAW dari masjidil haram menuju masjidil aqsa dan menaikkan beliau hingga ke sidratul muntaha di langit ke tujuh, Kejadian tersebut hanya dilakukan dalam waktu semalam. Isra miraj menjadi peristiwa untuk memisahkan antara seorang yang benar benar beriman kepada Allah SWT dan rasul nya dengan orang yang hanya memiliki iman tipis dan hatinya penuh kemunafikan.

Saat peristiwa mulia tersebut disampaikan nabi Muhammad SAW kepada masyarakat setempat waktu itu, nabi diolok-olok bahkan ditertawakan oleh kaum jahiliyah. Hal tersebut disebabkan karena peristiwa yang disampaikan nabi tersebut terkesan tidak masuk akal. Akan tetapi sahabat pertama beliau yakni Abu Bakar dengan keimanan yang kuat, beliau mengesampingkan logika dan membenarkan pernyataan yang disampaikan nabi Muhammad SAW. Dialah orang pertama yang membenarkan peristiwa tersebut sehingga Abu Bakar diberi gelar As Siddiq (jujur, membenarkan)

Dalam bahasa arab, Isra artinya perjalanan dimalam hari, sedangkan Miraj artinya kenaikan. Dalam peristiwa isra miraj ini, rasulullah mengendarai hewan yang istimewa yang memiliki kecepatan melebihi kilat yakni Buraq. Pada zaman itu perjalanan dari mekkah menuju yerusalem dengan mengendarai unta ataupun kuda membutuhkan waktu 1 bulan, namun nabi Muhammad SAW melakukan dalam waktu hanya semalam. Dikisahkan saat sampai di masjidil Al Aqsa, beliau memimpin sholat nabi-nabi terdahulu.

Setelah dari masjid Al Aqsa, beliau dinaikkan oleh Allah SWT ke langit mulai dari Langit pertama hingga langit ke tujuh yakni sidratul muntaha. Dalam perjalanannya nabi Muhammad bertemu dengan beberapa nabi disetiap langit, dilangit pertama beliau bertemu nabi Adam AS, dilangit kedua beliau bertemu nabi Yahya AS serta nabi Isa AS, dilangit ketiga beliau bertemu nabi Yusuf AS, dilangit keempat dan kelima beliau bertemu nabi Idris AS dan nabi Harun AS, dilangit keenam beliau bertemu dengan nabi Musa AS dan saat dilangit ketujuh beliau bertemu dengan nabi Ibrahim AS.

Perjalanan tersebut sesuai yang tercantum didalam Al Quran surah Al Isra ayat 1 yang berbunyi :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 

Artinya: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Kisah Miraj naiknya Nabi Muhammad SAW ke langit ketujuh juga berada di dalam surah Al-Najm ayat 13-18:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ {13}

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ {14}

عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ {15}

إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ {16}

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ {17}

لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ {18}

Artinya: "13. Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, 14. (yaitu) di Sidratul Muntaha. 15. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, 16. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. 17. Penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. 18. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar." 

Diperjalanan tersebut nabi Muhammad SAW ditunjukkan bagaimana nikmat surga yang akan diterima oleh orang orang beriman serta siksa neraka bagi orang orang yang berdosa dan tidak bertaubat. Disaat berada di sidratul muntaha tersebut Rasulullah mendapat perintah sholat, pada awalnya jumlah waktu sholat berjumlah 50 kali, akan tetapi ketika nabi Muhammad turun dari langit dan menemui nabi musa, Rasulullah diminta kembali lagi ke sidratul muntaha dan menemui Allah SWT. Nabi musa percaya bahwa umat islam tidak akan mampu menjalankan perintah tersebut yakni sholat 50 kali sehari.

Nabi Muhammad SAW pun kembali menghadap Allah SWT untuk meminta keringanan terhadap perintah sholat tersebut. Allah SWT mengabulkan dan mengurangi waktu sholat tersebut menjadi 40 kali dalam sehari. Saat turun kembali dan menemui nabi musa, beliau diminta kembali lagi menghadap Allah dan meminta keringanan lagi.

Nabi Musa yakin bahwa umat nabi Muhammad SAW tidak akan mampu menjalankan sholat sebanyak 40 kali tersebut, sehingga Rasulullah kembali menghadap Allah untuk meminta keringanan dan kejadian tersebut terjadi berulang kali hingga waktu sholat hanya tinggal 5 kali dalam sehari.

Dari perjalanan itu, terdapat sejumlah hikmah yang bisa kita petik. Di antaranya:

1. Ada kemudahan di balik kesusahan

Sebelum Nabi Muhammad mengalami isra mikraj, istrinya Siti Khadijah dan paman beliau yakni abu thalib sebagai orang terdekatnya harus lebih dahulu kembali kepada Allah SWT. Sehingga membuat Rasulullah sangat sedih karena harus ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya tersebut, sehingga Allah menghibur kekasihnya tersebut dengan peristiwa Isra Miraj tersebut

Karenanya, peristiwa isra mikraj bisa dikatakan semacam kejadian yang sedikit banyak bisa menghibur suasana sedih di hati Nabi Muhammad SAW. 

2. Adanya perintah salat lima waktu sebagai kewajiban yang telah diberikan keringanan 

Allah SWT sebelumnya memerintahkan umat Islam untuk salat sebanyak 50 kali sehari semalam. Namun, Nabi Muhammad SAW dengan saran Nabi Musa AS, beliau meminta keringanan kepada Allah SWT sehingga diringankan menjadi 5 waktu saja.

Dengan demikian, lima waktu tersebut sudah dirasa mampu dilaksanakan oleh umat Nabi Muhammad oleh karena itu perintah tersebut merupakan sebuah kewajiban dan termasuk rukun Islam.


 3. Sebuah mukjizat dari Allah SWT dan menambah keimanan

Bagi yang ingkar, ada yang mengatakan bahwa isra mikraj hanyalah mimpi belaka. Tetapi, bagi orang-orang yang beriman, isra mikraj adalah sebuah mukjizat yang pasti adanya dan tidak mungkin dialami oleh orang lain.

Bagi seseorang yang beriman maka akan semakin tebal dan kuat keimanannya sedangkan yang imannya tipis dan hatinya kotor maka dia akan kembali kafir.


4. Mengajarkan kepada kita arti sebuah perjuangan

Setelah kembali ke bumi dari Sidratul Muntaha, bukan perkara mudah untuk menjelaskan bahwa kejadian itu bukan sebuah kebohongan. Tidak sedikit orang di sekitarnya yang menganggap Nabi saw berbohong, tidak percaya dengan isra miraj sehingga mereka jauh dari tuntunan Islam.

 Akan tetapi, sebagai seorang nabi dan rasul, Nabi Muhammad saw tanpa mengenal kata menyerah terus melakukan dakwahnya. Itulah beberapa hal yang bisa kita pelajari dari peristiwa isra mikraj. Semoga Allah ta'ala memberi kita keteguhan iman.

‘’MELATIH KEIKHLASAN, KEPEDULIAN, DAN SEMANGAT BERBAGI MELALUI QURBAN’’

Tepatnya pada hari kamis (29/07) pemerintah, mayoritas organisasi masyarakat, dan seluruh kalangan umat islam di Indonesia memperingati momen yang istimewa yakni memperingati “Hari Raya Idul Adha 1444 H”. Sejatinya hari raya bukanlah hari kegembiraan kecil, tapi kegembiraan besar dan kebahagiaan untuk semua orang pada umumnya. Karena hari raya adalah hari raya seluruh umat manusia dan kegembiraan bagi umat Islam di seluruh dunia, “ Zakat fitrah yang mengiringi Idul Fitri”  dan “qurban yang mengiringi Idul Adha”  adalah bukti bahwa Islam menggariskan agar hari raya melahirkan kegembiraan bersama.

Idul Adha pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah juga dikenal dengan sebuatan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin yang sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit  yang disebut pakaian ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Tidak dapat dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat, sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, dan sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.

Idul Adha juga dinamakan “Idul Qurban”, karena pada hari itu Allah memberi kesempatan kepada kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Bagi umat muslim yang belum mampu mengerjakan perjalanan haji, maka ia diberi kesempatan untuk berqurban, yaitu dengan menyembelih hewan qurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah SWT.

Jika kita melihat sisi historis dari perayaan Idul Adha ini, maka pikiran kita akan teringat kisah teladan Nabi Ibrahim, yaitu ;

Dalam penantian yang sangat lama hingga mencapai puncak usia 86 tahun, Nabi Ibrahim a.s baru dikaruniai seorang anak yang kemudian diberi nama Isma'il. Setelah belahan jiwanya itu tumbuh dewasa, Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim a.s agar menyembelih putra yang sangat dicintai dan dinanti-nanti itu.

Apa sikap Nabi Ibrahim dan Isma'il atas perintah itu? Dengan ketundukannya kepada Allah, nabi Ibrahim a.s segera menjalankan perintah tanpa ada keraguan sedikit pun dihatinya. Begitu juga putranya, yakni nabi Ismail a.s  menyambut perintah itu dengan kepasrahan tanpa ada protes sepatah kata pun.

Subhanallah! Sebuah potret keluarga shalih yang lebih mengutamakan perintah Allah dibandingkan dengan apa pun selainnya. Ayah dan anak saling menolong dan menyemangati untuk melaksanakan perintah Allah. Dialog indah antara keduanya terekam dalam Al-Qur'an sebagaimana diceritakan dalam Ayat :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ

"Ibrahim berkata: "Duhai putraku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?" (QS ash-Shaffat: 102).

Sebagaimana kita ketahui bahwa mimpi para nabi adalah wahyu, sedangkan perkataan Nabi Ibrahim a.s  kepada putranya, "Maka pikirkanlah apa pendapatmu?" bukanlah permintaan pendapat kepada putranya apakah perintah Allah itu akan dijalankan ataukah tidak, juga bukanlah sebuah keraguan. Nabi Ibrahim a.s hanya ingin mengetahui kemantapan hati putranya dalam menerima perintah Allah SWT.

Lalu dengan kemantapan dan keteguhan hati, Nabi Isma'il a.s menjawab dengan jawaban yang menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Allah jauh melebihi kecintaannya kepada jiwa dan dirinya sendiri, sebagaimana firman Allah SWT dalam Qs. Ash-Shaffat : 102.

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

"Nabi Isma'il menjawab: "Wahai ayahandaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, in sya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS ash-Shaffat: 102)

Jawaban nabi Isma'il a.s yang disertai "Insya Allah" menunjukkan keyakinan sepenuh hati dalam dirinya bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa pun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa pun yang tidak dikehendaki Allah pasti tidak akan terjadi. Demi mendengar jawaban dari sang putra tercinta, Nabi Ibrahim a.s  lantas menciumnya dengan penuh kasih sayang sembari menangis terharu dan mengatakan kepada nabi Isma'il a.s :

نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللَّه

"Engkaulah sebaik-baik penolong bagiku untuk menjalankan perintah Allah, duhai putraku" Nabi Ibrahim kemudian mulai menggerakkan pisau di atas leher Isma'il. Akan tetapi pisau itu sedikit pun tidak dapat melukai leher Isma'il.

Hal ini dikarenakaN sang pencipta segala sesuatu adalah Allah SWT. Baik sebab maupun akibat, keduanya adalah ciptaan Allah SWT.

Saudara-saudariku yang di rahmati Allah, Berkat takwa, sabar, dan tawakal serta ketundukan yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim a.s  dan Isma'il a.s , Allah kemudian memberikan jalan keluar dan mengganti Isma'il dengan seekor domba jantan yang besar dan berwarna putih yang dibawa malaikat Jibril dari surga. Allah SWT berfirman :

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ,اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ

"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus Isma'il dengan seekor sembelihan yang agung" (QS ash-Shaffat: 106-107)

Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril kagum, seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menjawab “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian dismbung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’

Kisah di atas, jika di korespondensikan dengan fenomena di zaman ini, hewan kurban yang disembelih bukan untuk dijadikan ajang menonjolkan diri. Karena benang merah sesungguhnya dalam peristiwa ini adalah kepatuhan, keikhlasan, dan keimanan yang kuat kepada Allah SWT.

Banyak Hikmah yang dapat kita pelajari dalam Pelaksanaan Kurban di Hari raya Idul Adha. Secara tidak langsung, peristiwa besar yang dialami oleh Nabi Ibrahim a.s  dan Nabi Ismail a.s tersebut dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang mengandung tiga hal pembelajaran, yakni:

1.      Ketaqwaan

Pengertian “taqwa” itu berkaitan dengan ketaatan seorang Hamba kepada Sang Pencipta dalam upaya menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam hal ini, Nabi Ibrahim memiliki tingkat rasa ketaqwaan yang tinggi, sebab dirinya tetap melaksanakan perintah-Nya, sekalipun itu menyembelih putranya sendiri. Atas ketaqwaan Nabi Ibrahim, kemudian Allah SWT menggantikan anaknya untuk disembelih dengan seekor domba.

2.      Aspek Sosial (Hubungan Antar Manusia)

Dalam hal ini, dapat dilihat melalui proses pembagian daging kurban kepada para fakir miskin. Agama Islam mengajarkan kita untuk tetap mengedepankan rasa solidaritas dengan sesama manusia. Ketika puasa, kita secara tidak langsung merasakan bagaimana susahnya seorang dhuafa untuk memenuhi urusan perutnya.

Lalu, ketika kita memberikan hewan kurban untuk disembelih, daging hewan tersebut nantinya akan dibagikan kepada para fakir miskin sebagai bentuk kepedulian sosial seorang muslim kepada sesamanya. Hal ini juga memperlihatkan bahwa ciri khas dari agama Islam adalah mengajarkan untuk saling tolong-menolong.

3.      Peningkatan Kualitas Diri

Dalam hal ini berkaitan dengan sikap empati, kesadaran diri, hingga pengendalian diri sebagai akhlak terpuji seorang Muslim.

Hukum Qurban

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berqurban. Jumhur ulama, yaitu: madzhab Imam Malik, Imam Asy-Syafii, Imam Ahmad dan yang lainnya menyatakan sunnahnya.

Madzhab Imam Asy-Syafii mengatakan sunnah muakkadah (sangat ditekankan dan diusahakan tidak ditinggalkan kecuali ada ‘udzur). Sedangkan madzhab Imam Abu Hanifah mengatakan wajibnya.

Berikut Hadits Tentang Qurban Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقرَبَنَّ مُصَلاَّنًا.)

“Barang siapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami.”

Berkurban memiliki pelajaran yang sangat penting dan kita harus mampu untuk mengaktualisasikan nya dalam kehidupan sehari-hari guna mengharapkan Ridho-nya, yakni berusaha membiasakan diri untuk ikhlas dalam ucapan dan amal perbuatan. Orang-orang yang beriman memotong hewan kurban tentu mengharap rida Allah dan dipersembahkan hanya untuk-Nya, sebagaimana dalam surat Al-An’am ayat 162-163:

لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚوَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ , قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Artinya: Katakanlah, sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Untuk itu aku diperintah. Aku adalah orang pertama yang tunduk menyerah.

Dengan demikian, seluruh umat Islam khususnya saudara-saudariku di universitas panca marga probolinggo,  diperlukan pengorbanan untuk mencapai keridhaan Allah SWT dengan cara mempersembahkan seluruh ibadah, hidup matinya kepada Allah SWT. Selain itu hikmah menyembelih kurban sejatinya menundukkan nafsu, mengedepankan persatuan, dan kepedulian kepada sesama.




SEMANGAT ISRA’ MI’RAJ DALAM MEMPERKOKOH KEIMANAN



Tepat  27 Rajab 1444 H seluruh umat islam memperingati momen yang sangat istimewa yakni Peringatan  Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad S.A.W. Sahabat  yang berbahagia, semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT dan senantiasa mendapatkan rahmatnya.

Pada artikel kali ini kita akan sedikit membahas peristiwa Isra' Mi'rajIsra' Mi'raj merupakan salah satu mukjizat yang diberikan allah SWT kapada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW. Dikatakan mukjizat karena peristiwa ini serasa tidak masuk akal dan melampaui logika sains.

Dari sudut pandang yang lebih luas, Isra Mi’raj adalah peristiwa ilahiyah yang melibatkan campur tangan Allah. Di ranah ini tidak ada yang tidak mungkin. Salah satu analogi yang sering digunakan oleh para ulama adalah cerita tentang semut yang terbang bersama pesawat dari Jakarta ke Surabaya hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Padahal jika semut itu pergi dengan kekuatan sendiri, dia memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menempuh jarak yang sama.

Sebelum kita melangkah lebih jauh marilah kita mengenal terlebih dahulu pengertian dari israk mi’raj itu sendiri ;

Isra' Mi'raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Menurut Al-Maududi terjadi pada tahun pertama sebelum hijriah yaitu antara 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, namun tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya 2 peristiwa yang berbeda " Isra’ Mi’raj ".

Pada peristiwa Isra', Nabi Muhammad “diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hal ini di tegaskan dalam (Q.S AL Isra’: 1)

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ 

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

dan Mi’raj, Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha/tempat tertinggi/langit ke tujuh dan ke arsy untuk menghadap Allah SWT.

Dalam perjalanan isra’mi’raj Nabi Muhammad SAW juga bertemu dengan beberapa nabi lain-nya dan menyaksikan surga dan neraka, namun bukan hanya itu saja, Nabi Muhammad SAW juga menerima perintah untuk melaksanakan sholat yang awalnya 50 kali dalam sehari semalam, lalu Nabi Muhammad saw memohon keringanan kepada allah hingga menjadi 5 kali dalam sehari semalam.

Pengalaman ruhani yang dialami Nabi Muhammad SAW saat Isra’ Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari sholat yang dijalankann umat Islam sahari-hari. Shalat adalah mi‟rajnya orang-orang yang beriman.

Allah SWT berfirman dalam (Q.S. AL Baqoroh: 153) yang berbunyi :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ 

“ Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar ".

Segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti menyimpan hikmah dibaliknya, Berikut Pelajaran Penting yang dapat kita petik dari peristiwa isra’ mi’raj :

Dari Ali Muhammad Shalabi dalam Sirah Nabawiyah: ‘Irdlu Waqâi’ wa Tahlîl Ihdats, juz 1 halaman 209 menjelaskan setidaknya ada makna penting dari peristiwa ini.

 1. Kemuliaan dan Keistimewaan Nabi Muhammad

Nabi Muhammad SAW baru saja mengalami hal yang amat menyedihkan, yaitu wafatnya Sayyidah Khodijah sebagai istri tercinta, yang selalu mengorbankan jiwa, tenaga, pikiran, dan hartanya demi perjuangan Nabi. Juga wafatnya sang paman, Abu Thalib yang selalu melindungi Nabi dari kekejaman kaum Quraisy. Allah ingin menguatkan hati Nabi dengan melihat secara langsung kebesaran Allah SWT. Sehingga hati Nabi semakin mantap dan teguh dalam menyebarkan agama Islam. Ini memberikan pelajaran, bahwa siapa pun yang berjuang di jalan Allah, dan menegakkan agama, seperti dengan memakmurkan masjid, memakmurkan majlis ilmu, dzikir dan tahlil, Allah akan memberikan kebahagiaan dan keistimewaan.   

 2. Kewajiban Shalat Lima Waktu

Musthofa As Siba’i dalam kitab Sirah Nabawiyah, Durus wa Ibar, jilid 1 halaman 54.

menjelaskan bahwa jika Nabi melakukan Isra’ Mi’raj dengan ruh dan jasadnya sebagai mukjizat. Karenanya, sebuah keharusan bagi tiap muslim menghadap (mi’raj) kepada Allah SWT lima kali sehari dengan jiwa dan hati yang khusyu’.

Dengan shalat yang khusyu’, seseorang akan merasa diawasi oleh Allah SWT, sehingga malu untuk menuruti syahwat dan hawa nafsu, berkata kotor, mencaci orang lain, berbuat bohong. Justru sebaliknya lebih senang dan mudah untuk melakukan banyak kebaikan. Hal tersebut demi mengagungkan keesaan dan kebesaran Allah, sehingga dapat menjadi makhluk terbaik di bumi.

 3. Perjalanan Pertama Luar Angkasa

Dalam sejarah, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha adalah perjalanan pertama manusia di dunia menuju luar angkasa, dan kembali menuju bumi dengan selamat. Jika hal ini telah terjadi di zaman Nabi, 1400 tahun yang lalu, hal tersebut memberikan pelajaran bagi umat Islam agar mandiri, belajar, bangkit dan meningkatkan kemampuan, tidak hanya dalam masalah agama, sosial, politik, dan ekonomi, namun juga harus melek terhadap sains dan teknologi. Perjalanan menuju ke luar angkasa adalah sains dan teknologi tingkat tinggi yang menjadi salah satu tolak ukur kemajuan sebuah umat dan bangsa.   

 4. Membela Perjuangan Agama

​​​​​​​Pada Isra' Mi'raj ada penyebutan dua masjid, yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Hal tersebut memberikan pelajaran bahwa Masjidil Aqsha adalah bagian dari tempat suci umat Islam. Membela masjid tersebut dan sekelilingnya sama saja dengan membela agama Islam. Wajib bagi tiap muslim sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk selalu berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan keselamatan Masjidil Aqhsa Palestina. Baik dengan diplomasi politik, bantuan sandang pangan, maupun dengan harta.

walaupun di luar batas rasio manusia, isra’ mi’raj merupakan peristiwa yang betul-betul terjadi dan dialami sendiri oleh Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu dari ribuan bukti kenabiannya.

Barang siapa yang tidak percaya akan kejadian Isra Mi'raj dianggap runtuh imannya, Karena itu merupakan bagian iman kita kepada Al- Quran sebagaimana dalam Surat Al-Isra' dan Surat An-Najm: 5 -18 telah dijelaskan bahwa Isra Mi'raj benar-benar terjadi.

Dari berbagai hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa Isra' Mi’raj yang dapat membangun insan sejati dan merubah diri lebih baik dengan menjemput ridho Allah SWT. Maka dapat diharapkan umat muslim untuk dapat mempelajarinya dengan rasa penuh semangat lalu tak lupa untuk  mengamalkan di dalam kehidupan serta dapat menambah keimanan kita kepada Allah SWT. Dengan adanya moment Isra Mi’raj,

Demikian pemaparan singkat dari kami, semoga bermanfaat. Kami keluarga besar UKM Badan Dakwah Kampus mengucapkan “ Selamat Memperigati Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW”. Marilah kita jadikan moment peristiwa Isra Mi’raj sebagai pelajaran untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dan senantiasa menghidupkan nafas-nafas islami dengan penuh ketaatan dan semangat yang tinggi.

MAKNA IDUL FITRI

 


Seluruh Umat Islam merayakan  momen yang istimewa, momen yang sangat di nantikan yakni Idul Fitri 1443 H. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia yang bertaqwa. Idul Fitri berasal dari dua kata "Id" dan "Al-Fitri". Id secara bahasa berasal dari kata ‘’aada – ya’uudu’’, yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Sedangkan kata Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru

Idul Fitri menjadi hari yang ditunggu-tunggu umat Islam setelah melaksanakan ibadah satu bulan penuh, yaitu shiyam ramadan dan amal kebajikan lainnya, seperti shalat Sunnah tarawih, tadarrus al-Qur’an, zakat, shadaqah, dan lain sebagainya.

pada bulan Syawal ini, kita digolongkan oleh Allah menjadi orang yang mendapatkan kemenangan. Bagi umat Islam, Tepat pada tanggal 1 Syawal ini sedang memasuki babak baru,babak kembali ke fitrah yang suci,bukan hanya itu saja di Momen hari suci ini juga memberikan limpahan rahmat untuk umat muslim, yuk pahami seperti apa saja makna Idul Fitri itu:

1.Ungkapan Rasa Syukur

2.Kembali Menjadi Suci

Ungkapan tersebut bukan hanya sekedar kata kata, kembali ke suci bisa diartikan seseorang kembali bersih secara jiwa dan raga.Saat momen Lebaran,akan dimanfaatkan umat muslim untuk saling memaafkan, silaturahim & saling berbagi.

3.Hari Kemenangan

Kemenangan bisa dirasakan ketika kamu sudah berjuang dan berhasil mendapatkan sesuatu. Untuk meraihnya tentu ada pengorbanan dan usaha yang kamu lakukan. Begitu juga dengan hari raya Idul Fitri. Setelah berpuasa selama 30 hari penuh dan menghilangkan segala hal negatif, kamu bisa meraih kemenanganmu di hari raya Idul Fitri.

4.Meleburkan Dosa

Salah satu makna istimewa dari Idul Fitri adalah meleburkan dosa. Kata lebur ini mungkin akan mengingatkanmu dengan istilah Lebaran. Yaps, kamu nggak salah kok. Lebaran berasal dari istilah Jawa yang berarti Lebar-Lebur-Luber-Labur. Lebar artinya seseorang akan bisa terlepas dari kemaksiatan. Lebur artinya lebur dari dosa. Luber artinya luber dari pahala, luber dari keberkahan, luber dari rahmat Allah SWT. Labur artinya bersih sebab bagi orang yang benar-benar melaksanakan ibadah puasa, maka hatinya akan dilabur menjadi putih bersih tanpa dosa. Rosulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaihi).

Tradisi menyambut Hari Raya Idul Fitri sebagai Lebaran terasa sudah mengakar di kalangan masyarakat Indonesia,ada banyak tradisi khas yang sudah menjadi budaya sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu dan sangat di rindukan umat muslim Nusantara,di antaranya;

1.      Takbiran di malam hari raya idul Fitri

Mengumandangkan takbir pada hari raya Idul Fitri telah menjadi tradisi. Tidak hanya dikumandangkan di masjid-masjid, tetapi masyarakat juga mengadakan apa yang diistilahkan dengan ‘takbir keliling’: semacam pawai bersama mengelilingi desa atau kota dengan mengumandangkan takbir bersama seraya diiringi tabuhan bedug.

Dijelaskan oleh Imam Syafi’I dalam kitab al-Umm terkait dengan praktik takbir yang dikumandangkan oleh para sahabat Nabi saw. Di antaranya adalah Ibnu al-Musayyab, Urwah bin al-Zubair, Abu Salamah, dan Abu Bakar bin Abdurrahman yang mengumandangkan takbir pada malam Idul Fitri dengan mengeraskan suara. Kegiatan ini juga dilakukan oleh para sahabat yang lain hingga esok hari ketika salat Ied dilaksanakan.

2.      Mudik

Mudik merupakan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran Idul Fitri, Idul Adha, Natal, Tahun Baru, dan Hari Besar Nasional. Setelah  beberapa tahun Mudik Lebaran ditiadakan oleh pemerintah akhirnya tahun ini diperbolehkan dengan beberapa syarat tertentu, salah satunya telah vaksin dosis 3 (booster) ketentuan tersebut berada dalam Adendum Surat Edaran (SE) Satuan Tugas Penanganan Covid-19 16/2022 tentang ketentuan Perjalanan Dalam Negeri di Masa Pandemi.

3.      Silaturahmi

Silaturahmi menjadi agenda utama yang selalu dilakukan saat lebaran untuk mengunjungi sanak saudara, kerabat, tetangga, dan teman. Silaturahmi momen kembali suci saat lebaran yang dimanfaatkan umat muslim untuk saling bermaafan dan menyambung kembali tali silaturahmi yang terputus. Manfaat silaturahmi saat lebaran tak hanya sekadar menjalin hubungan baik antar manusia, kegiatan ini juga memupuk keimanan seseorang pada Allah SWT. Dan beberpa manfaat lain dari silaturahmi adalah dapat membuat seseorang banyak rezeki dan panjang umur, Nabi Muhammad SAW, bersabda : “Barang siapa yang ingin diperluas rezekinya dan ingin dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi”. ( H.R BUKHORI )

4.      Makan ketupat

Saat Lebaran terdapat hidangan khas yaitu ketupat. Dalam istilah Jawa, ketupat diartikan dengan ngaku lepat alias mengaku kesalahan, bentuk segi empat dari ketupat mempunyai makna kiblat papat lima pancer yang berarti empat arah mata angin dan satu pusat yaitu arah jalan hidup manusia di mana pusatnya adalah Allah SWT.

Banyak hikmah yang dapat kita petik dari pemaparan idul Fitri di atas dan dapat kita simpulkan betapa pentingnya menjalankan ibadah di bulan Ramadhan,semata-mata karena Allah SWT agar kita menjadi hamba yang bertakwa dan senantiasa mempererat tali silaturrahim.

Sekian pemaparan singkat dari kami, semoga bermanfaat .

Kami segenap Keluarga Besar UKM Badan Dakwah Kampus mengucapkan selamat hari raya idul Fitri 1443 H, (minal aidzin wal Faidzin) mohon maaf lahir dan batin.

KEMULIAAN MALAM LAILATUL QODAR

 



UKM BDK UNIVERSITAS PANCA MARGA PROBOLINGGO - Bulan ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa,pada bulan ini seluruh bentuk amal  ibadah yang di lakukan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Selain itu, di bulan Ramadhan juga terdapat satu malam yang sangat di nantikan yakni malam Lailatul Qadar.Pahala ibadah yang menjumpai malam Lailatul Qadar akan dilipatgandakan seribu bulan.

Lantas, apa itu malam Lailatul Qadar dan kapan datangnya malam Lailatul Qadar?

Lailatulqadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ, malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Al-Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Lailatul Qadar adalah nama julukan untuk suatu malam di mana di malam itu Al Quran diturunkan sepenuhnya dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia, secara sekaligus bukan sedikit-sedikit. Ini adalah masa penurunan (nuzul) Al-Quran fase pertama. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Qadar ayat 1-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar". (QS. Al Qadr: 1-5).

menurut Quraish Shihab;"Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Alquran serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih.

Di malam itu malaikat-malaikat Allah turun ke bumi untuk mengucapkan salam kepada orang yang berpuasa dan memohonkan ampunan untuk nya.

Al-Imam Al-Qurthubi menyebutkan bahwa dari setiap lapis langit dan juga dari Sidratil Muntaha, para malaikat turun ke bumi, untuk mengamini doa umat Islam yang dipanjatkan di sepanjang malam itu hingga terbitnya fajar, atau masuknya waktu shubuh.

Selain itu malam Lailatul Qadar merupakan malam keselamatan;Mujahid berkata bahwa maksudnya malam itu malam yang di mana setan tidak bisa melakukan perbuatan jahat dan keburukan.

Dan yang paling istimewa adalah malam "Lailatul Qadar"Eksklusif Milik umat Nabi Muhammad SAW.

Jumhur ulama sepakat bahwa keistimewaan malam Qadar ini hanya berlaku untuk umat Muhammad SAW saja. Sedangkan umat-umat terdahulu tidak mendapatkan keistimewaan ini.

Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa’

"Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya -yang relatif panjang- sesuai dengan kehendak Allah, sampai (akhirnya) usia-usia umatnya semakin pendek (sehingga) mereka tidak bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat sebelum mereka beramal karena panjangnya usia mereka. Maka Allah memberikan Rasulullah Lailatul Qadr yang lebih baik dari seribu bulan. (HR. Malik).

Lailatul Qadar hanya terjadi pada bulan Ramadhan saja.Artinya umat muslim hanya bertemu dengan malam lailatul qadar setahun sekali.

Malam lailatul qadar dipercaya sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Kebaikan yang diperoleh seorang muslim pada malam tersebut melebihi nilai dari jangka waktu seribu bulan atau 83 tahun.

Mengutip Muhammad Adam Hussein dalam Sukses Berburu Lailatul Qadar (2015), Ibnu Rajab dalam kitab Lathoif Al Ma'arif menjelaskan bahwa hadits dalam musnad Imam Ahmad, sunan An Nasai, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad bersabda:

"Di dalam bulan Ramadhan itu terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak mendapati malam tersebut, maka ia akan diharamkan mendapatkan kebaikan." (HR An Nasai No. 2106, shahih).

Setelah mendengar kemuliaan-kemuliaan lailatul qadar,kemudian timbul sebuah pertanyaan kapan lailatul qadar itu?

Dalam sebuah hadis di sebutkan:

malam lailatul qadar ada di 10 hari terakhir bulan Ramadan. “Berusahalah kalian untuk mendapatkan lailatul qadar di 10 akhir Ramadan,” HR Imam Bukhari dan Muslim.

Waktu malam lailatul qadar semakin mengerucut. Rasulullah SAW bersabda,

تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْر.

Artinya: "Carilah malam Lailatulqadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan." (HR. Bukhari & Muslim).

Ciri ciri Malam Lailatul Qadar:

a. Keadaan Malam Yang Tentram dan Tenang.

b. Kondisi Cuacanya Yang Tidak Begitu Panas dan Dingin.

c. Malam Yang Cerah dan Matahari Terbit Dengan Teduh.

d. Malam yang Terang dan Tenang.

e. Bulan Terlihat Separuh.

Demikianlah tanda-tanda datangnya malam Lailatul Qadar serta gambaran suasana pada malam hari atau keesokan harinya dapat memberikan pengetahuan kepada kita agar dapat menjumpai dan merasakan kehadiran tamu agung nan istimewa yakni malam Lailatul Qadar,Semoga kita dapat menjumpai malam kemuliaan ini.

Berikut 7 amalan yang dapat dilakukan pada malam Lailatul Qadar

1. Itikaf

2. Membaca doa Lailatul Qadar

3. Mendirikan sholat (Qiyamul Lail)

4. Sholawat atas nabi SAW

5. Membaca Al Quran

6. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar

7. Memperbanyak Sedekah.

jadikan lah pemaparan singkat ini sebagai media untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT serta meraih manis nya kemuliaan Malam Lailatul Qadar.

والله أعلم باالصواب

Sekian pemaparan singkat dari kami, semoga bermanfaat.

KEMULIAAN MALAM NUZULUL QUR'AN

 


UKM BDK UNIVERSITAS PANCA MARGA PROBOLINGGO - Tepatnya pada hari Senin (18/04),tidak terasa umat Islam akan kedatangan malam yang sangat mulia dan istimewa yaitu malam Nuzulul Qur'an yang bertepatan pada tanggal 17 ramadan.

Malam Nuzulul Qur'an merupakan kejadian yang sangat esensial dalam sejarah peradaban Islam yang terjadi di bulan suci Ramadan.Nuzulul Qur'an adalah peristiwa turunnya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Para ulama sepakat bahwa malam Nuzulul Quran merupakan malam turunnya Al Quran secara berangsur-angsur pada bulan Ramadan,yakni pada malam ke-17.

Pendapat yang mengatakan Alquran diturunkan pada  malam 17 Ramadan didasarkan pada hadits berikut :

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال : مَا أَشُكُّ وَلاَ أَمْتَرِي أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعَ عَشْرَةَ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ أُنْزِل الْقُرْآنُ

Dari Zaid bin Arqam radhiyallahuanhu berkata, ”Aku tidak ragu bahwa malam 17 Ramadan adalah malam turunnya Al-Quran.” (HR. Ath-Thabarani dan Abu Syaibah).

Marilah kita bersama-sama mengenal dan belajar apa itu malam Nuzulul Qur'an:

Malam Nuzulul Qur'an adalah peristiwa yang amat penting dalam sejarah peradaban Islam yang terjadi di bulan suci Ramadan.Nuzulul Qur'an adalah peristiwa turunnya Al-qur'an kepada Nabi Muhammad SAW pada malam ke-17 di bulan Ramadan.

Terkait turunnya Al Quran, Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185 yang berbunyi:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ - ١٨٥

Artinya: "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."

Al Quran pertama kali diturunkan di Gua Hira pada Tahun ke-41 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW,Saat itu Nabi Muhammad SAW menerima Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah surat Al Alaq ayat 1-5.di tempat yang sederhana ini,bukan tempat yang mewah dan megah Rasulullah SAW dapat membawa perubahan yang besar bagi peradaban manusia terutama bagi umat muslim di seluruh dunia.

Pada dasarnya, Alquran diturunkan dalam tiga fase: 

Pada tahap pertama, Allah menurunkan Alquran ke Lauh Mahfuzh. Kitab suci ini diturunkan ke sana secara keseluruhan. Dalilnya adalah surah al-Buruj ayat 21-22. Artinya, “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Alquran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.”

Imam al-Hafidz Badruddin al-Aini mengatakan, Lauh Mahfuzh di sisi Allah Ta’ala. Penyebutan itu tak berarti dalam perspektif tempat, melainkan isyarat kesempurnaan keberadaannya dibanding makhluk-makhluk lainnya.

Fase Kedua Baitul Izzah Fase ini merupakan kelanjutan dari sebelumnya. Setelah di Lauh Mahfuzh, Alquran secara utuh diturunkan ke Baitul Izzah, yakni langit dunia (samaaud dunya). Ini terjadi pada bulan suci. Ulama-ulama menyatakan, momen turunnya Alquran itu berlangsung pada malam Jumat tanggal 17 Ramadhan.

Sampai pada Nabi Akhirnya, tibalah pada Fase Ketiga .Pada tahap ini, Alquran diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Turunnya kitabullah ini terjadi secara berangsur-angsur, yakni dalam kurun waktu sekitar 23 tahun. Dalil terkait hal itu adalah surah as-Syu’ara ayat 193-195.

Artinya, “Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.”

Tak jarang Nuzulul Qur'an kerap disamakan dengan Lailatulqadar. Meski sama-sama berkaitan dengan turunnya Al Qur'an, keduanya merupakan peristiwa yang berbeda.

Nuzulul Qur'an merupakan peristiwa Jibril menurunkan wahyu berupa Al Qur'an dari Allah SWT ke Nabi Muhammad SAW. Sementara Lailatul qadar adalah istilah yang digunakan untuk memperingati malam di mana Al Qur'an diturunkan langsung dari Allah SWT secara keseluruhan baitul izzah (semacam ruang ilahiyah) yang kemudian dibawa Jibril secara berangsur kepada Rasulullah SAW. Oleh karena itu, malam lailatul qadar hanya Allah SWT yang mengetahuinya.

Peristiwa Nuzulul Quran terjadi bukan tanpa alasan.Ada banyak hikmah yang bisa dipetik oleh umat Muslim melalui peristiwa bersejarah tersebut. Berikut di antaranya:

Mengingat kembali bagaimana proses diturunkannya Al Quran sebagai pedoman umat Muslim. Oleh Karena itu,hendaknya kita senantiasa membaca Al Quran secara rutin,

Senantiasa menjalankan perintah Allah. Allah menuliskan perintah-Nya kepada umat Muslim melalui Al Quran yang diturunkan pada malam Nuzulul Quran.

Ada beberapa anjuran yang harus di lakukan pada malam Nuzulul Qur'an:

1.membaca dan tadabbur Al Qur'an

2.sholat malam

3.iktikaf

4.Doa dan zikir

Mengingat hal tersebut, sudah menjadi kewajiban bagi umat Muslim untuk mengikuti apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan Allah dalam Al Quran.

Semakin mendekatakan diri kepada Allah. Umat Muslim dianjurkan untuk menghidupkan malam Nuzulul Quran dengan memperbanyak ibadah, seperti menggelar pengajian, dzikir, sholat malam, dan sebagainya.

jadikan lah pemaparan singkat ini sebagai media untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt dan juga dapat kita terapkan sesuai dengan yang telah dicontohkan,

والله أعلم باالصواب

Sekian pemaparan singkat dari kami, semoga bermanfaat.

 

 

 

 

MARHABAN YA RAMADAN 1443 H/2022 M

 

UKM BDK UNIVERSITAS PANCA MARGa PROBOLINGGO -tepat nya pada hari Minggu (03/04),Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT atas nikmat nya kita semua diberi kesempatan di pertemukan kembali dengan bulan Ramadhan,Bulan yang penuh dengan ampunan dan keutaman serta penuh kemuliaan yakni bulan suci ramadhan.

Marilah kita jadikan Bulan suci Ramadhan ini sebagai momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT serta bertakwa kepada nya.

Ramadhan merupakan syahrul Quran,Diturunkannya Al-Quran pada bulan Ramadhan menjadi bukti nyata atas kemuliaan dan keutamaan bulan Ramadhan. Allah Swt berfirman yang artinya : “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185).

Di ayat lain Allah Swt berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam qadar” (QS. Al-Qadar: 1). Dan banyak ayat lainnya yang menerangkan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan.Itu sebabnya bulan Ramadhan dijuluki dengan nama Bulan Al Qur'an (Syahrul Qur'an).

Selain di sebut dengan Syahrul Qur'an, Bulan suci ramadhan ini juga di sebut dengan Bulan yang Penuh dengan Keberkahan(syahru mubarak),Hal ini adalah berdasarkan pada dalil hadist Nabi Rasulullah SAW yang artinya :”Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian..” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). Dan juga bahwa setiap ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan,maka Allah akan melipat gandakan pahalanya.

Selain dari itu dalam sebuah hadis juga di sebutkan;Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh keberkahan. Allah telah mewajibkan kepada kalian berpuasa didalamnya, di bulan itu pintu-pintu langit akan dibuka dan pintu-pintu neraka akan ditutup, di bulan itu setan-setan akan diikat, di bulan itu ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa terhalang mendapatkan kebaikannya maka sungguh ia telah terhalang.” (HR An Nasai)

Sahabat muslim yang dirahmati Allah

Salah satu perintah yang Allah wajibkan kepada kita ketika ramadhan adalah berpuasa. Dalam al-qur’an surat al-baqrah ayat 183 Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْن مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Hari orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

 

Keutamaan Bulan Ramadan

Selain kewajiban untuk berpuasa, ada berbagai keutamaan bulan Ramadan lain yang patut diketahui umat Islam. Dikutip dari buku Al-Baqiyatus Shalihat oleh Syaikh Rabi' Abdurrauf Az-Zawawi yang diterjemahkan oleh H. Masturi Irham, Lc dan H. Malik Supar, Lc, berikut keutamaannya: 

1. Ramadan adalah bulan Al Quran.

Merujuk pada keutamaan ini, umat Islam dapat memperbanyak membaca Al Quran selama berada pada bulan suci ini.

2. Ramadan adalah bulan kesabaran.

Umat Islam diwajibkan untuk berpuasa pada bulan Ramadan. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan juga segala hawa nafsu lainnya. Termasuk di dalamnya amarah.

3. Ramadan adalah bulan di mana pintu-pintu neraka ditutup sedangkan pintu-pintu surga dibuka dan setan dibelenggu.

Keutamaan bulan Ramadan ini disebutkan dalam hadits yang berasal dari Abu Hurairah RA:

 "Ketika datang (bulan) Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu," (HR Bukhari dan Muslim).

4. Pada bulan suci Ramadan terdapat malam Lailatul Qadar.

Disebutkan dalam surat Al Qadr, malam Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. "Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) pada Lailatul Qadar. Dan tahukah engkau apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para mlaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Rabbnya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar." (Al-Qadar: 1-5).

Diterangkan dalam Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, Nabi SAW berdabda, Khat "Siapa saja yang mendirikan salat pada Lailatul Qadar karena iman dan hanya mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaq Alaih). Hadits ini berasal dari Abu Hurairah RA.

5.Pada bulan Ramadan terdapat doa yang mustajab.

Syaikh Rabi' Abdurrauf Az-Zawawi mengatakan, keutamaan bulan Ramadan lainnya adalah terdapat doa yang mustajab di dalamnya. Kita dapat memperbanyak mendekatkan diri kepada Allah SWT salah satunya dengan berdoa.

6. Ramadan adalah bulan jihad dan perjuangan.

Sejarah mencatat perang besar umat Islam terjadi pada bulan Ramadan, tepatnya tahun kedua setelah hijrah. Perang tersebut adalah Perang Badar. Dr. Raghib As-Shirjani dalam bukunya Ramadhan wa Bina' al-Ummah menyebut bahwa kunci kemenangan perang tersebut adalah bulan Ramadan.

7. Ramadan adalah bulan doa.

Disebutkan dalam buku ini, bulan Ramadan merupakan waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa. Karena itu, seorang muslim dapat memperbanyak doa untuk kebaikan dirinya maupun saudara-saudaranya.

8. Ramadan adalah bulan zakat, sedekah, dan infak.

Umat Islam diwajibkan untuk memenuhi salah satu rukun Islam, yaitu zakat pada bulan Ramadan. Selain zakat, kita juga bisa memperbanyak sedekah dan infak selama bulan ini berlangsung.

9. Ramadan adalah bulan umrah.

Syaikh Rabi' Abdurrauf Az-Zawawi menyebut pahala umrah pada bulan Ramadan setara dengan haji bersama Rasulullah SAW.

Sahabat muslim yang dirahmati Allah

Kita juga ingin bahwa ramadhan yang datang pada tahun ini dan segala amalan yang dikerjakan di dalamnya bernilai lebih baik dari pada tahun sebelumnya. Seperti yang pernah dikatakan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib ; “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

inilah sedikit keutamaan tamu yang demikian agung ini,marilah kita menyambutnya dengan suka cita dan menjamu nya dengan ibadah yang semaksimal mungkin di dalamnya,Semoga kita termasuk hamba hamba Nya yang bersyukur dengan dipertemukan dengan bulan yang demikian agung ini.

Mengingat berbagai keutamaan Ramadhan tersebut di atas, maka sangat disayangkan bila Ramadhan datang dan berlalu meninggalkan kita begitu saja, tanpa ada usaha maksimal dari kita untuk meraihnya dengan melakukan berbagai ibadah dan amal shalih.Semoga ramadhan tahun ini akan lebih baik dalam hal amalan ibadah daripada tahun-tahun sebelumnya. Aamin aamiin ya robbal alamin.

Kami segenap Keluarga Besar UKM Badan Dakwah Kampus mengucapkan "Marhaban ya ramadhan"semoga kita semua senantiasa dalam pertolongan serta perlindungan Allah swt,dan Allah jadikan kita semua sebagai hamba yang Istiqomah dalam menjalankan ibadah kepada nya. jadikan lah pemaparan singkat ini sebagai media untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt dan juga dapat kita terapkan dalam bulan Ramadhan ini.

 أعلم باالصوابوالله

Sekian pemaparan singkat dari kami, semoga bermanfaat.


Melalui Hikmah Isra Mi'raj, Mari Wujudkan Jiwa yang Taat dalam Meraih Iman dan Taqwa kepada Allah SWT

  Salah satu peristiwa yang sering diperingati oleh umat islam tepatnya pada tanggal 27 rajab yakni isra miraj. Peristiwa ini sendiri merupa...