KEUTAMAAN MUADZIN

 KEUTAMAAN BAGI MUADZIN


Dalam Syarah Muslim, Imam Nawawi (nama lengkap Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi) menjelaskan maksud frase أطول الناس أعناقا (paling panjang lehernya) dalam hadits di atas sebagai berikut:

 معناه أكثر الناس تشوفاً إلى رحمة الله تعالى؛ لأن المتشوف يطيل عنقه إلى ما يتطلع إليه، فمعناه كثيرة ما يرونه من الثواب

Artinya: Maknanya adalah orang yang paling banyak melongok (mengharap) kepada rahmat Allah ta’ala karena sesungguhnya orang yang melongok (mutasyawwif) akan memanjangkan lehernya terhadap apa yang ia ketahui. Maksudnya, seorang muadzin akan menjadi sosok yang menonjol di akhirat karena banyaknya pahala yang diterimanya dari Allah SWT. (lihat Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawi, Muassisah al-Qurthubah, 1994, Juz 4, Cetakan 2, hal. 121-122).

Dalam Hadist lain Rasulullah SAW pernah menyebutkan bahwa seluruh benda akan memintakan ampun atas dosa seorang muadzin, hal ini disebutkan Imam Ahmad dalam sebuah hadits :

الْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ بِمَدِّ صَوْتِهِ وَيَشْهَدُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ

Artinya, “Muadzin diampuni sejauh jangkauan azannya. Seluruh benda yang basah maupun yang kering yang mendengar azannya memohonkan ampunan untuknya,” (HR Ahmad).

Keutamaan lain sebagaimana Hadits yang diriwayatkan  Imam An-Nasa’I :

وَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ صَلَّى مَعَهُ

Artinya, “Muadzin mendapatkan pahala seperti pahala orang yang shalat bersamanya,” (HR An Nasa’i).

 

أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ ، قَالَ لَهُ : إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الغَنَمَ وَالبَادِيَةَ ، فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ ، أَوْ بَادِيَتِكَ ، فَأَذَّنْتَ بِالصَّلاَةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ ، فَإِنَّهُ : لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ المُؤَذِّنِ ، جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ ، إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ القِيَامَةِ ، قَالَ أَبُو سَعِيدٍ : سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

“Sesungguhnya aku melihat engkau menyukai kambing dan pengembaraan. Ketahuilah jika engkau sedang mengembala atau sedang mengembara melewati padang pasir, dan engkau mengumandangkan adzan untuk sholat, maka angkatlah suaramu tinggi-tinggi. Karena sesungguhnya sepanjang dan sejauh suara orang adzan, tidak akan terdengar jin, manusia, atau apa pun kecuali ia akan bersaksi untuk orang adzan pada hari kiamat kelak. Aku mendengar hal itu dari Rasulullah SAW.” (HR Al-Bukhari).

Yusni A Ghzali menjelaskan, pada hadits di atas dijelaskan bahwa semua makhluk yang beriman, baik itu dari golongan jin maupun manusia akan bersaksi untuk muadzin. Bahkan, makhluk-makhluk lain yang kita anggap benda mati akan bersaksi untuk muadzin.

At-Turbusyti dalam kitab yang sama juga menjelaskan bahwa maksud dari “Kesaksian” itu adalah jika muadzin dibantu oleh makhluk lain dengan kesaksiannya, maka ia akan diangkat menjadi manusia yang mulia dan berderajat tinggi di akhirat kelak.

Semakin tinggi dan nyaring suara muadzin, maka akan semakin banyak makhluk yang mendengarnya dan besaksi untuknya. Sebaliknya, jika adzan dikumandangkan dengna lirih, maka makhluk yang mendengarnya alah lebih sedikit, sehingga derajatnya pun lebih rendah dibandingkan muadzin laain dengan suaranya yang tinggi.  

Penulis : (Muhammad Arifulloh).

Editor :  Tim UKM BDK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Melalui Hikmah Isra Mi'raj, Mari Wujudkan Jiwa yang Taat dalam Meraih Iman dan Taqwa kepada Allah SWT

  Salah satu peristiwa yang sering diperingati oleh umat islam tepatnya pada tanggal 27 rajab yakni isra miraj. Peristiwa ini sendiri merupa...