Tepatnya pada hari kamis (29/07) pemerintah, mayoritas organisasi
masyarakat, dan seluruh kalangan umat islam di Indonesia memperingati momen yang
istimewa yakni memperingati “Hari Raya Idul
Adha 1444 H”. Sejatinya hari raya bukanlah hari kegembiraan kecil, tapi
kegembiraan besar dan kebahagiaan untuk semua orang pada umumnya. Karena hari
raya adalah hari raya seluruh umat manusia dan kegembiraan bagi umat Islam di
seluruh dunia, “ Zakat fitrah yang mengiringi Idul Fitri” dan “qurban
yang mengiringi Idul Adha” adalah bukti
bahwa Islam menggariskan agar hari raya melahirkan kegembiraan bersama.
Idul Adha pada setiap tanggal 10
Dzulhijjah juga dikenal dengan sebuatan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin
yang sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua
memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit yang disebut pakaian ihram, melambangkan
persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai
persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Tidak dapat dibedakan antara
mereka, semuanya merasa sederajat, sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang
Maha Perkasa, dan sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.
Idul Adha juga dinamakan “Idul Qurban”, karena pada
hari itu Allah memberi kesempatan kepada kita untuk lebih mendekatkan diri
kepada-Nya. Bagi umat muslim yang belum mampu mengerjakan perjalanan haji, maka
ia diberi kesempatan untuk berqurban,
yaitu dengan menyembelih hewan qurban
sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah SWT.
Jika kita melihat sisi historis dari
perayaan Idul Adha ini, maka pikiran kita akan teringat kisah teladan Nabi
Ibrahim, yaitu ;
Dalam penantian yang sangat lama hingga
mencapai puncak usia 86 tahun, Nabi Ibrahim
a.s baru dikaruniai seorang anak yang kemudian diberi
nama Isma'il. Setelah belahan jiwanya itu tumbuh dewasa, Allah memerintahkan
kepada Nabi Ibrahim a.s agar menyembelih putra yang sangat dicintai dan
dinanti-nanti itu.
Apa sikap Nabi Ibrahim dan Isma'il atas perintah
itu? Dengan ketundukannya kepada Allah, nabi Ibrahim a.s segera menjalankan
perintah tanpa ada keraguan sedikit pun dihatinya. Begitu juga putranya, yakni
nabi Ismail a.s menyambut perintah itu
dengan kepasrahan tanpa ada protes sepatah kata pun.
Subhanallah! Sebuah potret keluarga
shalih yang lebih mengutamakan perintah Allah dibandingkan dengan apa pun
selainnya. Ayah dan anak saling menolong dan menyemangati untuk melaksanakan
perintah Allah. Dialog indah antara keduanya terekam dalam Al-Qur'an
sebagaimana diceritakan dalam Ayat :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ
اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ
"Ibrahim
berkata: "Duhai putraku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?" (QS ash-Shaffat: 102).
Sebagaimana kita ketahui bahwa mimpi para
nabi adalah wahyu, sedangkan perkataan Nabi Ibrahim a.s kepada putranya, "Maka pikirkanlah apa
pendapatmu?" bukanlah permintaan pendapat kepada putranya apakah perintah
Allah itu akan dijalankan ataukah tidak, juga bukanlah sebuah keraguan. Nabi
Ibrahim a.s hanya ingin mengetahui kemantapan hati putranya dalam menerima perintah
Allah SWT.
Lalu dengan kemantapan dan keteguhan
hati, Nabi Isma'il a.s menjawab dengan jawaban yang menunjukkan bahwa
kecintaannya kepada Allah jauh melebihi kecintaannya kepada jiwa dan dirinya
sendiri, sebagaimana firman Allah SWT dalam Qs. Ash-Shaffat : 102.
قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ
سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
"Nabi
Isma'il menjawab: "Wahai ayahandaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu, in sya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang
sabar" (QS ash-Shaffat: 102)
Jawaban nabi Isma'il a.s yang disertai "Insya Allah" menunjukkan keyakinan sepenuh hati dalam dirinya bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa pun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa pun yang tidak dikehendaki Allah pasti tidak akan terjadi. Demi mendengar jawaban dari sang putra tercinta, Nabi Ibrahim a.s lantas menciumnya dengan penuh kasih sayang sembari menangis terharu dan mengatakan kepada nabi Isma'il a.s :
نِعْمَ الْعَوْنُ أَنْتَ يَا بُنَيَّ عَلَى أَمْرِ اللَّه
"Engkaulah
sebaik-baik penolong bagiku untuk menjalankan perintah Allah, duhai
putraku" Nabi Ibrahim kemudian mulai menggerakkan pisau di atas leher
Isma'il. Akan tetapi pisau itu sedikit pun tidak dapat melukai leher Isma'il.
Hal ini dikarenakaN sang pencipta segala
sesuatu adalah Allah SWT. Baik sebab maupun akibat, keduanya adalah ciptaan
Allah SWT.
Saudara-saudariku yang di rahmati Allah,
Berkat takwa, sabar, dan tawakal serta ketundukan yang ditunjukkan oleh Nabi
Ibrahim a.s dan Isma'il a.s , Allah
kemudian memberikan jalan keluar dan mengganti Isma'il dengan seekor domba
jantan yang besar dan berwarna putih yang dibawa malaikat Jibril dari surga.
Allah SWT berfirman :
وَفَدَيْنٰهُ
بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ,اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا
الْمُبِيْنُ
"Sesungguhnya
ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus Isma'il dengan seekor
sembelihan yang agung" (QS ash-Shaffat: 106-107)
Menyaksikan tragedi penyembelihan yang
tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril kagum,
seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu
Akbar.” Nabi Ibrahim menjawab “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian
dismbung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’
Kisah di atas, jika di korespondensikan
dengan fenomena di zaman ini, hewan kurban yang disembelih bukan untuk
dijadikan ajang menonjolkan diri. Karena benang merah sesungguhnya dalam
peristiwa ini adalah kepatuhan, keikhlasan, dan keimanan yang kuat kepada Allah
SWT.
Banyak Hikmah yang dapat kita pelajari
dalam Pelaksanaan Kurban di Hari raya Idul Adha. Secara tidak langsung,
peristiwa besar yang dialami oleh Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s tersebut dimaknai sebagai
pesan simbolik agama, yang mengandung tiga hal pembelajaran, yakni:
1. Ketaqwaan
Pengertian “taqwa” itu
berkaitan dengan ketaatan seorang Hamba kepada Sang Pencipta dalam upaya
menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam hal ini, Nabi Ibrahim
memiliki tingkat rasa ketaqwaan yang tinggi, sebab dirinya tetap melaksanakan
perintah-Nya, sekalipun itu menyembelih putranya sendiri. Atas ketaqwaan Nabi
Ibrahim, kemudian Allah SWT menggantikan anaknya untuk disembelih dengan seekor
domba.
2. Aspek Sosial (Hubungan Antar Manusia)
Dalam hal ini, dapat
dilihat melalui proses pembagian daging kurban kepada para fakir miskin. Agama
Islam mengajarkan kita untuk tetap mengedepankan rasa solidaritas dengan sesama
manusia. Ketika puasa, kita secara tidak langsung merasakan bagaimana susahnya
seorang dhuafa untuk memenuhi urusan perutnya.
Lalu, ketika kita
memberikan hewan kurban untuk disembelih, daging hewan tersebut nantinya akan
dibagikan kepada para fakir miskin sebagai bentuk kepedulian sosial seorang
muslim kepada sesamanya. Hal ini juga memperlihatkan bahwa ciri khas dari agama
Islam adalah mengajarkan untuk saling tolong-menolong.
3. Peningkatan Kualitas Diri
Dalam hal ini berkaitan dengan sikap
empati, kesadaran diri, hingga pengendalian diri sebagai akhlak terpuji seorang
Muslim.
Hukum Qurban
Para ulama berbeda pendapat tentang
hukum berqurban. Jumhur ulama, yaitu: madzhab Imam Malik, Imam Asy-Syafii, Imam
Ahmad dan yang lainnya menyatakan sunnahnya.
Madzhab Imam Asy-Syafii mengatakan sunnah
muakkadah (sangat ditekankan dan diusahakan tidak ditinggalkan kecuali ada
‘udzur). Sedangkan madzhab Imam Abu Hanifah mengatakan wajibnya.
Berikut Hadits Tentang Qurban Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقرَبَنَّ مُصَلاَّنًا.)
“Barang
siapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berqurban, maka janganlah dia
mendekati tempat shalat kami.”
Berkurban memiliki pelajaran yang sangat
penting dan kita harus mampu untuk mengaktualisasikan nya dalam kehidupan
sehari-hari guna mengharapkan Ridho-nya, yakni berusaha membiasakan diri untuk
ikhlas dalam ucapan dan amal perbuatan. Orang-orang yang beriman memotong hewan
kurban tentu mengharap rida Allah dan dipersembahkan hanya untuk-Nya,
sebagaimana dalam surat Al-An’am ayat 162-163:
لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚوَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠
اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ , قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ
الْعٰلَمِيْنَۙ
Artinya:
Katakanlah, sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan matiku hanya untuk Allah,
Tuhan sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Untuk itu aku diperintah. Aku
adalah orang pertama yang tunduk menyerah.
Dengan demikian, seluruh umat Islam khususnya saudara-saudariku di universitas panca marga probolinggo, diperlukan pengorbanan untuk mencapai keridhaan Allah SWT dengan cara mempersembahkan seluruh ibadah, hidup matinya kepada Allah SWT. Selain itu hikmah menyembelih kurban sejatinya menundukkan nafsu, mengedepankan persatuan, dan kepedulian kepada sesama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar